Read more »
MASJID SEBAGAI PUSAT KEBANGKITAN EKONOMI UMAT
Sejarah, Inovasi, dan Model Pemberdayaan Ekonomi Umat, Dari Spirit Tauhid hingga Revolusi Ekonomi Berbasis Jamaah
Masjid sering kali dipahami sebatas tempat melaksanakan ibadah. Padahal, dalam sejarah Islam, masjid memiliki peran yang jauh lebih luas: sebagai pusat pendidikan, pembinaan masyarakat, solidaritas sosial, musyawarah, pelayanan umat, hingga penggerak kehidupan ekonomi. Dari Masjid Nabawi di Madinah, masjid telah menjadi bagian penting dari lahir dan berkembangnya masyarakat Islam yang berilmu, berkeadilan, dan berkemakmuran. Buku Masjid sebagai Pusat Kebangkitan Ekonomi Umat mengajak pembaca untuk melihat kembali fungsi tersebut dan menemukan relevansinya bagi kehidupan umat di masa kini.
Buku ini berangkat dari sebuah kegelisahan: masih banyak masjid yang telah megah secara fisik, tetapi belum sepenuhnya hadir sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Di tengah persoalan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, pengangguran, rendahnya literasi ekonomi, dan lemahnya kemandirian komunitas, masjid memiliki modal sosial yang besar berupa jamaah, jaringan kepercayaan, sumber daya filantropi, serta kedekatan dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, masjid memiliki peluang besar untuk menjadi ruang lahirnya berbagai solusi atas persoalan umat.
Pembahasan buku dimulai dari filosofi masjid dalam Al-Qur’an. Masjid tidak dipandang hanya sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai simbol ketundukan kepada Allah, pembentukan kesadaran tauhid, dan tempat tumbuhnya tanggung jawab sosial. Pemaknaan tersebut kemudian diperluas pada fungsi masjid sebagai ruang yang mempertemukan dimensi spiritual dengan kehidupan sosial dan kesejahteraan umat.
Selanjutnya, pembaca diajak menelusuri sejarah arsitektur dan fungsi sosial masjid dalam peradaban Islam. Masjid Nabawi menjadi salah satu contoh penting bagaimana masjid sejak masa Rasulullah berfungsi sebagai pusat kehidupan masyarakat. Perannya tidak hanya mencakup ibadah, tetapi juga pendidikan, komunikasi sosial, pelayanan masyarakat, pengelolaan bantuan, penyelesaian persoalan, dan berbagai aktivitas kemasyarakatan. Jejak tersebut kemudian berkembang dalam berbagai pusat peradaban Islam.
Buku ini juga mengangkat masjid sebagai pusat peradaban ilmu. Tradisi keilmuan yang tumbuh di lingkungan masjid melahirkan halaqah, pusat pembelajaran, serta institusi pendidikan yang kemudian berkembang menjadi pusat-pusat ilmu pengetahuan. Al-Qarawiyyin dan Al-Azhar menjadi contoh bagaimana tradisi pendidikan yang berakar dari masjid dapat memberikan pengaruh luas terhadap perkembangan intelektual dunia Islam.
Dari fondasi sejarah dan filosofis tersebut, pembahasan bergerak menuju pertanyaan yang lebih aktual: bagaimana menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat peradaban di tengah masyarakat modern? Buku ini menawarkan paradigma pengelolaan masjid yang tidak berhenti pada aktivitas ritual, tetapi juga memperhatikan kebutuhan sosial, pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat. Manajemen modern, transparansi, akuntabilitas, serta kemampuan membaca kebutuhan jamaah menjadi bagian penting dalam proses revitalisasi tersebut.
Bagian penting buku ini membahas masjid sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat. Masjid diposisikan sebagai ruang yang dapat mempertemukan sumber daya umat dengan kebutuhan masyarakat. Pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf secara produktif dapat diarahkan untuk mendukung usaha mikro, meningkatkan kapasitas pelaku usaha, membangun kemandirian ekonomi, dan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap sumber pembiayaan yang eksploitatif.
Untuk memperkuat gagasan tersebut, buku menghadirkan lima praktik pengelolaan masjid inovatif di Indonesia, yaitu Masjid Jogokariyan Yogyakarta, Masjid Al Jihad Banjarbaru, Masjid Raya Al Falah Sragen, Masjid Baitul Mukhlisin Ponorogo, dan Masjid Ar-Royyan Buduran Sidoarjo. Kelima contoh tersebut memperlihatkan berbagai cara masjid mengintegrasikan fungsi ibadah dengan pendidikan, pelayanan sosial, penguatan komunitas, dan pemberdayaan ekonomi.
Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa transformasi masjid bukan sekadar gagasan ideal. Masjid Jogokariyan, misalnya, mengalami perubahan dari masjid dengan aktivitas yang relatif terbatas menjadi salah satu rujukan dalam pengelolaan masjid yang mengintegrasikan fungsi ibadah, pendidikan, sosial, dan ekonomi.
Namun, perubahan tersebut tentu tidak berlangsung tanpa hambatan. Buku ini secara khusus membahas tantangan pemberdayaan ekonomi umat berbasis masjid, baik yang berasal dari dalam maupun luar organisasi. Keterbatasan sumber daya manusia, budaya organisasi yang belum adaptif, lemahnya manajemen, pemahaman masyarakat yang masih sempit mengenai fungsi masjid, serta minimnya keterlibatan generasi muda menjadi sejumlah persoalan yang perlu diatasi.
Karena itu, pengelolaan masjid membutuhkan pendekatan yang lebih profesional, termasuk dalam fundraising dan pengembangan volunteer muda. Buku ini menawarkan strategi penghimpunan dana yang lebih kreatif dan transparan sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan masjid. Rekrutmen, pelatihan, komunikasi, apresiasi, serta pemberian ruang bagi anak muda untuk terlibat dalam pengambilan keputusan menjadi bagian dari strategi membangun ekosistem volunteer yang berkelanjutan.
Salah satu pembahasan yang menarik adalah Bankziska, sebuah model pemberdayaan ekonomi berbasis zakat yang diarahkan untuk membantu masyarakat keluar dari jeratan rentenir dan membangun usaha secara lebih mandiri. Dalam buku ini, masjid ditempatkan sebagai pusat koordinasi, edukasi, jaringan sosial-ekonomi, serta layanan pemberdayaan bagi masyarakat.
Model tersebut tidak hanya berbicara mengenai pembiayaan. Pemberdayaan juga disertai dengan pendampingan usaha, kajian keislaman, pelatihan kewirausahaan, pengelolaan keuangan, pemasaran digital, pengemasan produk, serta pembinaan karakter. Dengan demikian, masjid berperan sebagai ruang pembentukan ekosistem ekonomi yang menggabungkan aspek spiritual, sosial, dan produktivitas ekonomi.
Buku ini juga memperlihatkan bagaimana masjid dapat menjadi simpul jaringan ekonomi lokal. Jamaah dapat berperan sebagai donatur, konsumen, mitra usaha, relawan, sekaligus bagian dari jaringan pemasaran. Pada beberapa model, masjid bahkan terhubung dengan lembaga zakat, BMT, pemerintah daerah, dan berbagai lembaga lainnya sehingga membentuk ekosistem pemberdayaan yang lebih luas.
Pada akhirnya, buku ini tidak hanya menawarkan cara pandang baru tentang masjid, tetapi juga mengajak pembaca membayangkan masa depan masjid sebagai pusat kebangkitan umat. Masjid yang hidup bukan hanya masjid yang ramai oleh jamaah salat, tetapi juga masjid yang menjadi tempat belajar, berkarya, membangun usaha, memberikan pelayanan sosial, dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Generasi muda, pengelola masjid, aktivis sosial, akademisi, dan masyarakat luas memiliki peran bersama dalam mewujudkan visi tersebut.
Dengan memadukan landasan Al-Qur’an, refleksi sejarah peradaban Islam, perspektif ekonomi dan pemberdayaan masyarakat, praktik pengelolaan masjid, serta contoh-contoh inovasi di Indonesia, buku ini menawarkan gagasan bahwa kebangkitan ekonomi umat dapat dimulai dari ruang yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat: masjid. Spirit tauhid yang tumbuh dari masjid diharapkan tidak berhenti pada kesalehan individual, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial yang melahirkan kemandirian, keadilan, dan kesejahteraan bersama.
IDENTITAS BUKU
📘 Judul Buku:
Masjid sebagai Pusat Kebangkitan Ekonomi Umat
📖 Subjudul:
Sejarah, Inovasi, dan Model Pemberdayaan Ekonomi Umat, Dari Spirit Tauhid hingga Revolusi Ekonomi Berbasis Jamaah
✍️ Penulis:
Dr. Aji Damanuri, M.E.I.
💬 Pemberi Sambutan/Pengantar:
Ir. Kusnadi Ikhwani, M.M.
Ketua Takmir Masjid Raya Al-Falah Sragen, Praktisi Pemberdaya Masjid, dan Trainer Akademi Marbot Masjid
🎨 Desain Cover:
Tim Penerbit
📖 Penerbit:
Traz Media Publishing
🏢 Status Penerbit:
Anggota IKAPI
📆 Tahun Terbit:
2026
📆 Cetakan:
Cetakan ke-1, September 2026
📏 Ukuran:
15,5 × 23 cm
📚 Tebal:
xxv + 257 halaman
🔖 ISBN:
Dalam proses
🌐 Bahasa:
Bahasa Indonesia
📚 Kategori:
Buku Umum / Nonfiksi
Subjek/Topik Buku
- Masjid dan Peradaban Islam
- Ekonomi Umat
- Pemberdayaan Masyarakat
- Ekonomi Islam
- Manajemen Masjid
- Filantropi Islam
- Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf
- Kewirausahaan Berbasis Masjid
- Fundraising
- Volunteer Muda
- Bankziska
- Pemberdayaan UMKM
- Ekonomi Berbasis Jamaah
- Kepemudaan dan Masjid
- Masjid sebagai Pusat Peradaban
- Inovasi Pengelolaan Masjid




0 Reviews